Rabu, 04 Juni 2014

Bahasa Wotu dan Eksistensinya


20 06 2009
Wotu berada di tengah (klik untuk memperbesar)
Jika anda mengetahui bahwa Wotu adalah nama sebuah daerah berupa kecamatan yang ada di Kabupaten Luwu Timur, Propinsi Sulawesi Selatan, ternyata memiliki bahasa tersendiri dalam berkomunikasi dengan warga lainnya, yaitu Bahasa Wotu.
Wotu merupakan daerah yang di dalam Cerita La Galigo (La Galigo adalah epik terpanjang dunia. Ianya wujud sebelum epik Mahabharata. Ianya mengandungi sebahagian besar puisi ditulis dalam bahasa bugis lama-Wikipedia), menjadi pusat turunnya Tomanurung, Orang pertama di Kerajaan Luwu, yang pada akhirnya pusat pemerintahan Kerajaan Luwu berpindah ke Kota Palopo. Di Wotu sendiri ada Macoa Bawalipu, atau Saudara Tua Raja Luwu yang tinggal di Wotu.
Orang-orang memperkirakan bahwa Bahasa Wotu merupakan cikal bakal dari bahasa-bahasa yang ada di Nusantara ini, seperti bahasa bugis dan bahasa-bahasa lainnya yang berada di daerah sekitar Asia Tenggara. Bahasa Wotu memang beberapa ada kemiripan dengan Bahasa Bugis, Makassar, Bahasa Toraja, ataupun bahasa Tomona di Daerah Sulawesi Tengah, maupun bahasa di beberapa daerah lain karena kedekatan geografis daerah dan asal-usul bahasa-bahasa mereka juga diceritakan oleh orang-orang tua berasal dari Wotu.
Update : seperti yang saya tulis di posting saya di sini bahwa kemiripan bahasa Tagalog dan bahasa-bahasa di Philipina dengan Bahasa Wotu juga ada, seperti kata untuk menyebutkan ayah= ama dan ibu-ina.
Seperti kita melihat bahasa Wotu dianalogikan dengan keadaan seperti hidung dalam bahasa Wotu adalah ango, untuk menyebutkan angka satu, dua, tiga, dan empat itu menggunakan ango, karena ketika berbicara hanya sampai 4 lubang hidung yang ada. Berikut beberapa angka dalam bahasa Wotu :
Satu : sango
Dua : duango
Tiga : taloango
Empat : patango
Lima : alima
Enam :ana
Tujuh : pitu
Delapan :walu
Sembilan : sassio
Sepuluh : sapuluh
seribu : sangsou
seratus : satu
Itu beberapa sejarah munculkan kata-kata dalam bahasa Wotu yang bisa menjadi salah satu alasan bahwa Bahasa Wotu merupakan bahasa asli yang langsung dari orang yang pertama menggunakan bahasa.
Kemiripan bahasa terlihat dari beberapa kata, seperti angka tiga yang di beberapa daerah menggunakan kata Tellu, Tallu, Talo yang dipakai di Jawa, Sunda, bahasa Tagalog, dan sekitarnya. Atau Tujuh dengan kata pitu.
Beberapa bukti keaslian bahasa ini juga adalah tidak adanya huruf mati dalam setiap kata dalam Bahasa Wotu ini, bisa dilihat di Kamus Bahasa Wotu Singkat di bagian bawah. Jika ingin mengetahui lebih dalam ada buku Morfologi dan Sintaksis Bahasa Wotu dikarang oleh JS Sande (saya juga belum baca :D ).
Orang Wotu beranggapan bahwa jika dia orang Wotu berarti dia tau berbahasa Wotu. Memang begitulah idealnya namun sebagian juga ternyata sudah berevolusi dengan bahasa Indonesia, sehingga lambat laun bahasa ini akan menghilang jika tidak dilestarikan.
Barangkali keadaan yang memaksa kita untuk tidak lagi menguasai bahasa itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Asimilasi kita dengan bahasa-bahasa lain sehingga melupakan identitas bahasa ibu kita.
Kita bisa merasakan bahwa perlunya bahasa daerah ketika sedang keluar dari daerah asal, sehingga kita baru mengingat kembali perlunya mengetahui bahasa dan sejarah daerah kita kembali. Jadi teringat Lagu “Makassar Bisa Tonji” yang berisi kritikan terhadap orang yang sudah melupakan bahasa asli Makassarnya karena berlogat :D
Kamus Bahasa Wotu (sebagian besar bersumber dari Rijal, saudara sepupu saya :D )
=Keluarga=
Ayah : ama
Ibu : ina
Siapa : sema
Om/tante : uwak
Sepupu sekali : topisa
Sepupu dua kali : topenrua
Cucu : anopu
orang tua : tumattua
=arti=
Dibakar api : kande api
berjalan : molanga
buang air besar : tottai/mojamba
jalan : dala
jatuh: boto
Kulit : uli
Nama : sanga
mengatakan : motae
adik : andri
menikah : siala
kakak : kaka
bulan : ula
duduk : tumongko
Turungnga : sungai
lari : cere
jelek : kadake
baik : kaballo
bersamalah= suranga ta
laut : tasi
berkerut : si kapurru
pantat : tambe
kepala : ba
tangan : jari
manis : macanni
kaki : aje
sepotong : sapale
Turun : mono
mendengkur : manggoro
Bertemu : siruntu/sintomu
Naik : mene
Timba : Pattenru
Perahu : lemba
mencuri : minnau
Ikan : bete
Tidur : maturu
bangun : tumongko
rokok : tole
rumah : wanua
bersama : suranga
baju : badu
celana : sularra
memanjat : mennea
kelapa : kaluku
melawan : mangewa
lawan : bali
teman : ranga
terbang : molao
sama panjang : sumanrate
orang : ito
potong ayam : sumbele manu
jauh : marido
menangis : tomangi/karra
sekumpulan : sipuluanna
dibuang : ibana
tenda : semba
parang : ambera
rambut :luwa
kurang ajar : kurayya
gila : ombe
durian : tampia
pisang : punti
air : uwe
air panas : pinane
panas : mapane
jangan : billi
sayur : buaju
aku : iyau
tiang : patotto
memasukkan : palopo
dingin : madingngi
membeli : mangali
menjual : mobalu
di dalam : ilara
di luar : isalua
diam : makko
beras : barra
merah : maeja
hitam : maeta
kuning : maunni
gunung : bulu
hidung : ango
gula merah : golla eja
perempuan : bawine
laki2 : muwane
besar : oge
kecil : bacici
anak2 : ngana2
patah : pale/polo
sumur : bubung
berbaris : barisi
tiga ekor : tallu mba
hujan : uda
bambu : salolo
kuburan : kaburru
tidak tau : edo sani
Allah ta ala : Pungga Taala
tertua : macoa
pertemuan : pentomua
sagu : tabaro
tidak mau : cia
marah : cai
kebun : bilassa
hidup : tuwo
bantal guling : kanggulu
kelambu : boco
pasar : posarra
pipis : tole
tersangkut : sappe
mandi : mandriu
ikan kering : bete kossi
sarung : lipa
= Dialog =
Mau pergi mana ? : Mai pasi?
Siapa namamu? : Sema sangata/sangamu?
Kabar baik : Kareba Kaballo ba.
Saya mau mandi : iyau melu mandriu
Jangan mau diganggu orang : Edo melo lagarrui itoe
Tidak juga kamu : Edo dua io
Turun ke sungai : mono turungnga
Jangan ribut : billi marea
sampai pada waktu : anularatteme wattu u
Bias Bahasa (terinspirasi postingan teman saya di sini)
Dalam bahasa Wotu juga dikenal kata yang berhomofon yaitu tole yang artinya bisa buang air kecil (pipis) atau merokok, tergantung konteks kalimatnya. Jadi ketika kita ngomong “mipa tole” ada 2 kemungkinan pergi (lagi) merokok atau pergi (lagi) buang air kecil :D
Ketika orang Wotu berkata “edo sani” bukan berarti menyebutkan pasangan Edo dan Sani, tapi mengatakan bahwa tidak tau. Bagaimana jika kata itu dikatakan kepada orang-orang yang tidak tahu berbahasa Wotu.
Kalau orang Wotu berada di antara orang Minang, trus dia berkata “uda untuk mengatakan hujan, ternyata bukan untuk memanggil paman dalam artian berbahasa Padang. :D
Kata Marido dalam bahasa wotu adalah jauh, sedang dalam bahasa Arab : sakit (bagi wanita) :D
Demikianlah bahasa ibu, bahasa yang harus tetap dipertahankan untuk tidak hanya menjadi catatan sejarah, tapi merupakan identitas yang maha luhur.
Asruldin Azis : Wija To Luwu
Lahir di Palopo, Orangtua dua-duanya dari Wotu.
Sumber peta : http://www.welt-atlas.de/
Sumber inspirasi : dari orang tua, saudara-saudara dan keluarga lainnya.
Penulis : Asruldin Azis

Wotu, dari Kacamata Seorang Anak Kecil


7 07 2009
Oleh: Amirullah Amir to Baji
Pendahuluan.
Wotu, sebagai komunitas dan sebagai pemukiman secara administratif berada di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur atau berjarak sekitar 513 km dari kota Makassar ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Penduduk traditional yang mendiami terdiri dari dua etnik besar yaitu Wotu dan orang Bugis, disamping etnik lain seperti Makassar, Jawa, Lombok, Sunda dan Bali, yang merupakan pendatang yang bermukim di sana. Aktivitas ekonomi bergerak di bidang pertanian, perikanan dan perdagangan. Di dalam pergaulan masyarakatnya, berlaku dua bahasa pengantar yaitu bahasa Wotu yang dituturkan oleh orang Wotu Asli dan bahasa Bugis. Bahasa Wotu merupakan grup linguistic, Muna-Buton (Sirk:1986 dan Salombe;1986) dan Kaili Sulawesi Tengah. Dahulu kala bahasa Wotu alat komunikasi pada sebahagian daerah Sulawesi Selatan pada sepanjang pesisir Teluk Bone dan sebagian Sulawesi Tengah, dan sekitar Buton Tenggara. Bahasa Wotu menurut Petras (ibid) adalah salah satu bahasa asli daerah Luwu dan penuturnya adalah merupakan pewaris budaya Luwu yang sesungguhnya. Demikian pula dalam struktur hirarkhi Kerajaan Luwu , yang kadang kala ada sekelompok golongan ingin mengaburkan atau menghilangkan sejarah ini, yang lebih ironis justru dari kelompok generasi Luwu pada periode-periode akhir, mereka tidak menyadari bahwa Wotu bukan merupakan palili (vassal) tetapi merupakan Domain yang menghubungkan kekuasaan Luwu dengan yang lain dengan Lembah Poso yang mendiami tanah Datu,
Potensi sejarah dan kekunoan Luwu belum banyak dikaji, sehingga pengetahuan tentang Wotu masih terbatas, salah satu yang terakhir dilakukan oleh Ian Caldwel dan D.Bulbeck (2000) dalam final report proyek OXIS,Land of Iron. Yang menarik adalah bahwa keberadaan arkeologis Wotu sekitar 1500 tahun lebih tua dari Malangke, yang diyakini sebagai pusat perdagangan Luwu di abad ke XII – XIV, semua ini didasarkan pada temuan keramik dan hasil Fotocarbon terhadap lapisan kandungan tanah dari berbagai situs yang ada di Luwu. Berbagai bukti penemuan arkeologi, tradisi lisan maupun naskah mendukung hal tersebut seperti bukit Lampenai dan Mulaitoe (Mulataue) dimana diyakini merupakan areal pertanian, dimana dikisahkan Batara Guru sebagai Tomanurung berdiam dan memperkenalkan ladang untuk pertama kalinya kepada manusia di  Luwu. Demikian pula situs Benteng tua serta Serre Bessue di muara sungai Wotu, tempat para Bissu menari untuk suatu acara ritual. Berdasarkan potensi sejarah,antropologi yang dimiliki daerah Wotu, adalah menarik untuk mengangkat potensi budaya yang ada dalam masyarakat seperti ritual dan kesenian.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, beberapa kesenian yang berada di daerah Wotu seperti Kajangki dan Sumajo menarik untuk dilestarikan dan diperkenalkan bukan saja kepada generasi muda di Wotu tetapi juga kepada umum yang belum pernah menyaksikannya. Kajangki berasal dari kata Jangki yang berarti kemenangan, yang dimaksud adalah kemenangan Luwu yang dicapai oleh perajurit dalam menghadapi musuh-musuhnya. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, bahwa keberadaan kajangki di Wotu adalah sejak adanya ade” atau adaptasi yang mengharuskan adanya norma yang berlaku bagi yang melakukan pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang, maka dikenakan sanksi yang dinamakan “Eja-Eja”. Hal ini memberi penjelasan  bahwa kajangki dilaksanakan sebagai realisasi rasa syukur atas kemenangan yang dicapai dalam medan perang atau mendapat rezeki dalam kehidupan. Karena itu siapa yang melakukan pelanggaran dalam melaksanakan kajangki dianggap melanggar norma adat dan akan diberikan sanksi sesui ketentuan yang berlaku.
Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa kajangki merupakan kesenian asli Luwu seperti yang dikukuhkan dalam surah Mulataue dalam epos La Galigo yang berbunyi ”Majangki ri Luwu, Masengo-sengo ri Mengkoka, Mabbadong ri Toraja,” sementara berdasarkan pengetahuan yang ada, bahwa semua wilayah Luwu Kajangki hanya diketemukan di Wotu.
BAGAIMANA WOTU SEKARANG.?
Dari pedoman 5W 1H, tampak pertanyaan 5W telah terjawab dalam penjelasan tentang identitas orang Wotu secara umum. Namun ada satu pertanyaan yang menggelitik pikiran yaitu How (Bagaimana) orang Wotu saat ini. Dari beberapa kali pulang kampung yang saya lakukan, tampak benar kebanggaan orang-orang Wotu akan identitas mereka sebagai To Luwu yang utamanya keturunan asli. Kebanggaan sebagai pemilik kebanggaan asli Luwu yang didukung berbagai fenomena-fenomena dan pertanyaan seperti, Wotu sebagai Kakak (macoa) dari Datu Luwu, berdasarkan mitologi versi wilayah ini tentang empat bersaudara dari moyang dari orang Wotu, Luwu, Palu dan Buton dan juga keberadaan empat tempat keramat seperti Tana Bangkolo, Tana Padda, Ue Mami dan sebagainya. Namun jika memandang saat ini, kebanggaan obyek tersebut tampaknya dinafikkan oleh generasi terahkir pewaris kebudayaan Luwu secara bertahap.Seperti dahulu dan mungkin juga sekarang masih ada rumor mengatakan orang wotu sebagai parassu rassu atau tempat ilmu hitam doti dan sebaginya, hal ini dilakukan sebagai strategi pembunuhan krakter bagi orang  Wotu sebagai salah satu komunitas pemilik budaya Luwu. Selamjutnya mengenai bahasa, menurut kajian DR. Abdullah pengguna bahasa ini diperkirakan tinggal 5000 orang dan keberadaannya 10 km persegi dalam wilayah Kecamatan Wotu saja. Hal ini disebabkan telah berkurangnya pemakai bahasa Wotu dalam lingkungan masyarakat  Wotu akibat kawin campur dengan para pendatang, menyebabkan komunikasi menggunakan bahasa Bugis dan bahasa Indonesia. Demikian juga dalam konteks politik terakhir, berdasarkan sejarah dan temuan, bahwa proses pembentukan Luwu Timur, keberadaan Kota Wotu yang paling layak sebagi ibu kota kabupaten, mengingat Wotu pernah menjadi ibu kota atau ware Kerajaan Luwu pada periode awal.
PENUTUP
Kebesaran budaya Wotu yang ada dan berbagai potensi di dalamnya, kiranya kita lihat dalam konteks kekinian dalam persfektif modern, Jika terus menggugat berbagai perlakuan yang orang Wotu terima akhir-akhir ini. Marilah kita gari jalan keluar bersama-sama dalam memecahkan masalah tersebut. Jika kita bisa belajar kita tidak akan menjadi bangsa/komunitas yang hidup dengan masa lalu, seperti orang-orang Indian yang pernah begitu berjaya di lembah prairie Amerika, sekarang mereka tinggal dalam desa adapt meraka yang kumuh dan hanya menjadi obyek pariwisata. Orang Wotu belum terlambat untuk bangun.
( Penulis adalah peneliti pada devisi social budaya, humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian UNHAS)

TOMANURUNG TANAH LUWU


7 07 2009 Oleh Nawawi S. Kilat
Sebahagian orang kadang mengungkapkan bahwa, To Manurung sering diartikan sebagai turunan dari kayangan dan ditakdirkan untuk memerintah manusia dimuka bumi. Tidak sedikit orang mengungkapkan bahwa To Manurung itu bukanlah manusia sejarah, atau hanya merupakan mitos belaka, akan tetapi penulis lontara dan para petutur di zanan luwu purba di Wotu ketika itu masih terletak disekitar ussu dan bilassa lamoa (kebun dewata) mengungkapkan bahwa raja pertama disebut To Manuru , hal ini disebabkan oleh karena tidak diketahui darimana kedatangannya demikian pula menghilangnya. Jadi sebenarnya oleh masyarakatnya dia dianggap sebagai manusia surgawi atau wija polamoa (berbeda dengan tradisi-tradisi jawa) tetapi diakui sebagai orang yang datang dan mempunyai kepintaran dan keahlian. Seorang  To Manurung (orang Asing) kadang diangkat sebagai raja (belum tentu raja pertama) oleh karena beberapa alasan antara lain:
a,    Mungkin sebagai daerah bawahan dari suatu kerajaan yang lebih besar.
b.    Karena kehebatan dari pribadi sang pendatang.
c.    Karena alasan politik untuk mempersatukan wilayah.
Dapat disimpulkan bahwa nama ToManurung adalah sebenarnya gelaran yang diberikan kemudian oleh turunan dan masyarakatmya pada seorang tokoh sejarah dari suatu kerajaan yang kadangkala di mitoskan sebagai turunan dari kayangan. Pada umumnya orang sulawesi utamanya orang Luwu mempunyai silsilah baik tertulis maupun tidak yang dihapalkan secara turun temurun.Biasanya pada pertemuan-pertemuan keluarga atau antar keluarga, unpamanya dalam peristiwa peminangan atau pesta-pesta, ungkapan silsilah saling dicocokan kembali oleh para pengatur masyarakat atau para ahli silsilah. Dengan cara-cara ini kebenaran silsilah dapat dipertahankan. Disamping itu silsilah-silsilah masih terdapat cerita-cerita rakyat yang disebut Sinrilli atau Tolo. Kedua duanya adalah cerita-cerita kepahlawanan dan peperangan yang pernah terjadi. Sinrilli dan tolo adalah cerita fakta manusiawi yang bebas dari campur tangan tokoh-tokoh kayangan.
TEMPAT TO MANURUNG TANAH LUWU
Dari cerita tentang To Manurung, bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Tenggara telah banyak ditulis, baik penulis penulis sejarah dalam negeri naupun luar negeri utama nya Belanda, dan terakhir sastrawan negeri jiran Arenawati yaitu “ Silsilah Kerajaan Bugis dan Melayu” dimana disebutkan, raja raja nusantara dan semenanjung berasal dari Luwu Sulawesi Selatan yaitu keturunan dari La Maddusala (ejaan malayu La Maddusalat) antara lain hampir seluruh kerajaan disemananjung  Malaysia dan Nusantara. Sebagaimana umumnya orang mengeketahui bahwa kedatuan Luwu atau kerajaan Luwu memiliki sejarah yang sangat panjang, luas wilayah, sisten pemerintahan,asal muasal darimana berasal pangkal awalnya sang tokoh (To Manurung) masih terjadi perdebatan panjang dan tidak pernah selesai. Nomenklatur “Luwu” atau Luwuq belum ada kesepakatan, tetapi secara pasti oleh orang Wotu tempat muasal sang tokoh menyebut Luwu sebagai Luwo yang berasal dari kata “LU” yang berarti sangat luas hal ini dapat dibuktikan bahwa luas wilayah Luwu purba memang sangat luas, terdampar hampir seluruh daratan sulawesi. Suatu hal yang sulit terbantahkan dan hampir telah menjadi kesepakatan bahwa To Manurung Tanah Luwu adalah Sawerigading. Orang Luwu percaya ia turun kedunia dianggap membawa rahmat bagi keselamatan kemakmuran dan kesejahteraan. Hanya kadang sangat disayangkan dan sering terjadi silang pendapat utamanya para etnis yang ada di Luwu ada yang terang terangan mengklaim bahwa dirinya atau clennya yang yang pewaris luwu atau wija sawerigading sementara yang lain adalah tidak sehingga kelompoknya yang berhak berbicara tentang Luwu dan kelompok lain tidak utamanya tentang adat istiadat., padahal bila kita mau mengkajinya secara obyektif mereka semua keturunan atau wija asselinna Luwu, tidak ada yang dapat mengklaim kelompoknya yang wija to Luwu asli karena yang membedakannya adalah fase atau waktu saja, hal ini dapat dilihat dari sudut dimana dan kapan Ware (pusat penerintahan kerajaan Luwu berpusat) dalan catatan sejarah dapat memberikan kepada kita gambaran masa dimana Ware Pertama sampai Ware Kelima.,
1.Ware.Pertama.  Dimulai pada akhir abad ke IX dan memasuki abad keX masehi sampai pada abad ke XIII, dikenal sebagai fase Luwu purba berlangsung kurang lebih 300 tahun lamanya. Pusat kerajaan (Ware) masih di sekitar Wotu lama sampai runtuhnya kerajaan luwu pertama, Wotu lama sebagian  pindah Wotu sekarang, sebagian pindah atau hijrah orang  Wotu menyebutmya cerrea (orang bugis menyebutnya cerekang) dan sebagian menetap disekitar lampia. Kota Malili belum dikenal karena nanti disekitar abad ke XIII barulah ada yaitu pada saat datangnya orang bugis diLuwu.Sebagian penduduk masih menetap dan sebagian lagi mengikuti Datu atau Raja Luwu Anakaji.
2.Ware Kedua. Dimulai pada abad ke XIV masehi ware (pusat penerintahan) berada di Mancapai , dekat Lelewaru diselatan Danau Towuti pada masa pemerintahan Raja Anakaji.
3.Ware  Ketiga Dimulai disekitar abad ke XV Masehi. Ware  (pusat kerajaan) berada di Kamanre, ditepi Sungai Noling sekitar 50 km selatan Kota Palopo Rajanya dikenal; sebagai Dewaraja.
4. Ware Keempat Dimulai pada abad ke XVI Masehi pusat kedatuan Luwu (ware) di pindahkan ke Pao, di Pattimang Malangke dan disini peristiwa besar tercatat yaitu masuknya agama Islam di tanah Luwu.
5. Ware Kelima Dimulai ketika memasuki abad ke XVII Malangke menjadi surut sehingga Ware berpindah ke Palopo sampai dengan sekarang.
Jika kita menyimak catatan perjalanan ware diatas, maka tidak ada satu kelompokpun yang dapat mengklaim dirinya sebagai peduduk asli Luwu dan berhak menyebut alenami tomatase”na Luwu karena semua suku bangsa berdasarkan adat Luwu adalah penduduk asli Luwu dan berkewajiban mematuhi siapapun yang menjadi Datu ri Luwu. Orang Wotu termasuk Pamona,To padoe (mori) dan Tolaki tidak bisa dipungkiri sebagai penduduk luwu purba abad X, tidak bisa juga mengklaim bahwa dialah penduduk asli Luwu. Walaupun diakui bahwa mereka adalah pewaris Macoa.Orang Palopo dan sekitarnya tidak dapat juga mengklaim bahwa hanya merekalah peduduk asli Luwu walaupun mereka memangku jabatan adat pada masa ware terakhir sampai sekarang, disisilain tidak dapat pula dikesampingkan peran pada masa ware kedua,ketiga dan keempat, semua memiliki peran yang sama, hanya waktulah yang membedakannya.semuanya keturunan para tomanurung,…
( Penulis adalah wakil Ketua Kerukunan Keluarga Luwu Raya Sulawesi Tengah)

Kajangki dan Sumajo, Tarian Asli Luwu


7 07 2009 Pengantar
Berawal akan ketertarikan saya ketika semasa kuliah di Universitas Indonesia, tempat dimana kami dahulu sempat ditempa dalam penguasaan ilmu pengetahuan, saya kagum dan, ada rasa iri melihat teman-teman saya dengan tekun belajar Javanologi dan Sundalogi.Hal ini mengingatkan akan masa kecil saya di kampung, belajar banyak tentang La Galigo dari Pua Kannu dan kakak saya Alwi Azis dan Amin Wahid. Sudah menjadi kebiasaan saya bila pulang berlibur  di kampung halaman, saya selalu menyempatkan diri menemui Bapak Prof Zainal Abidin Farid di kota Makassar, kami sering berbincang cukup lama pada setiap kesempatan, beliau sangat senang karena masih ada orang seperti saya yang punya kepedulian tentang hal ini, dan berpesan jangan berhenti belajar , walaupun sebenarnya disiplin ilmu saya bukanlah pada bidang ini, tetapi walaupun demikian saya punya perhatian besar Masih teringat dalam ingatan saya ketika salah seorang guru sejarah kami mengajarkan tentang seni tari, dan beliau menyatakan bahwa tarian Pa’jaga berasal dari Luwu, sempat saya membantahnya bahwa itu tidaklah benar, tetapi tarian asli Luwu adalah Kajangki dan Sumajo, akan tetapi pada akhirnya saya mengalah ketika beliau menyatakan bahwa kalau ada pertunjukan kesenian di Istana Luwu tidak pernah kita melihat adanya tarian kajangki tetapi yang ada adalah tarian Pa’jaga. Sebagai murid yang masih sangat lugu saya tidak bisa membantahlagi dan untuk mementara menerimanya sebagai suatu kebenaran.Penasaran akan hal ini maka suatu ketika saya bersua dengan kakak saya Alwi Azis dan mempertanyakan hal ini kepada beliu, ternyata pendapat saya beberapa tahun yang lalu justru menurut beliau adalah yang betul dengan mengeluarkan dalil sebagai berikut, dalam buku Mulataue yang merupakan salah satu seri epos La Galigo disebutkan “ Kajangki ri Luwu, Masengo-sengo ri Mengkoka dan Mabbadong ri Toraja. Jadi menurut beliau tidak pernah diketemukan bahwa Pa’Jaga dari Luwu, justru tari pa’jaga ini lebih banyak dipengaruhi dari Makassar atau Goa.Jikalaupun kita mau menerima bahwa tarian pa,jaga dari Luwu dapat saja dibenarka karena hal itu terjadi pada Luwu di era modern (abad IX dan XX) tetapi pada era awal atau pertengahan fase pemerintahan Kerajaan Luwu hal itu tidak diketemukan.
Dalam rangka melestarikan kebudayaan nasional khususnya kebudayaan Luwu maka kami berusaha menampilkan synopsis tari kajangki dan sumajo dari Luwu berdasar dua buah tulisan tentang hal yang sama dari kakanda Almarhum Alwi Aziz yang beliau tulis di palopo bulan Desember 1986 dan Amin Wahid.
Wassalam.
Palu. 28 Juni 2009,
NAWAWI.S.KILAT

Sinopsis Tarian Kajangki Luwu


7 07 2009
LATAR BELAKANG
Ware (Pusat Kerajaan) Luwu yang Pertama yaitu pada abad ke IX sampai abad ke XIII, pusat kerajaan pada saat itu masih disekitar Wotu, tepatnya di wilayah Bilassalamoa (Kebun Dewata). Kajangki Luwu, yang merupakan tarian asli Luwu sebagaimana yang tercantum dalam sure La Galigo yang berjudul Mulaitoe yang berbunyi:
=  Kajangki ri Luwu,
=  Masengo-sengo ri Mengkoka dan
=  Mabbadong ri Toraja.
II.   ARTI
Kajangki Luwu berarti “Kemenangan Luwu” maka jelas bahwa kajangki Luwu menggambarkan dan mengisahkan kemenangan yang dicapai di medan perang.
III. PEMENTASAN
Kajangki Luwu dapat dipentaskan.
(I),    DI WOTU SENDIRI
a. Diadakan pada acara kebesaran adat yangdipentaskan Barugga, antara lain;
  • Macceratasi ; Pesta laut,
  • Mobiola ; Pesta kemenangan,yakni peringatan yang diadakan setiap ada daerah yang ditaklukkan.
  • Momante ; Pesta panen.
b.   RUMAH PEJABAT.
Dilakukan dalam acara;
  • Memasuki rumah baru,
  • Pesta persalinan,
  • Pesta perkawinan.
PEJABAT;
Pejabat yang dinaksud adalah anggota hadat dan pejabat penerintahan,khusus pejabat hadat meliputi;
  1. Macoa Bawalipu,
  2. Macoa Bemtua,
  3. Macoa Mincara Oge,
  4. Macoa Pelemba Oge,
  5. Uragi Bawalipu,
  6. Uragi Datu,
  7. Uragi Ala,
  8. Anre Guru Olitau.
  9. Anre Guru Tomadappe,
  10. Anre Guru Lara,
  11. Anre Guru Tomengkeni,
  12. Anre Guru Pawawa,
  13. Anre Guru Ranra.
  14. Angkuru,
  15. Paramata Lewonu,
  16. Paramata Rampa,
  17. Tanggi
RUMAH BARU,
  1. Rumah yang memiliki tipe-tipe satu. Tarian kajangki di tarikan dengan cara setelah runah      dimasuki, dan merupakan rangkaiam acara.
  2. Rumah yang memiliki tipe tipe dua susun keatas. Tarian  kajangki ditarikan sejak memasuki pintu,mengantar pemilik rumah, merupakan acara pertama memasuki rumah, kajangki ini disebut Kajangki Tuddu.
PESTA PERSALINAN.
Tarian kajangki dapat dilaksanakan pada kelahiran anak-anak pejabat, turunan pejabat dan bekas pejabat (Tomengkeni).
PESTA PERKAWINAN.
Tarian Kajangki Luwu dapat di mainkan pada pesta perkawinan sebelum dan sesudah akad nikah, pada perkawinan yang disebut Nikka Datu Balua, yaitu perkawinan yang terjadi antara pasangan turunan Bawalipu, Oragi dan Anre Guru.
(II)  DI ISTANA.
Tarian Kajangki Luwu yang dilaksanakan di Istana Datu Luwu di Ware (Tempat Ibu Kota Kerajaan) dalam acara;
  • Peringatan Kemenangan,
  • Kelahiran putra-putri raja (Datu).
IV. PEMAIN
Yang boleh menjadi pemain tarian kajangki yaitu semua turunan dari jenis jabatan di atas dan turunan olitau. Olitau adalah suatu golongan/keturunan yang secara turun temurun tidak dapat diangkat sebagai anggota adapt, sesuai kenyataannya, tetapi mempunyai hak istimewa yakni apabila ada anggota hadat yang menurut ukurannya tidak wajar lagi menjadi anggota hadat, maka ia berhak menurunkan dari jabatan melalui Macoa Bawalipu.Sebagai mana diketahui bahwa Olitau, ialah turunan Bawalipu sejak dahulukala sampai pada saat siding pleno hadat di samping Tangga Padda (Sekarang Masjid Arrasiun). menerima Islam, dan telah dilanggar dengan melakukan protes keras sehingga hadat menjatuhkan sanksi.
V.JENISNYA.
Tarian Kajangki Luwu termasuk jenis tari pahlawan/tari perang dan merupakan sendatari (seni drama tari), namun tidak menutup kemungkinan dapat dimainkan sebagai tarian biasa.
VI. KOMPOSISI.
1. SERE BANDA, ialah suatu gerak tari yang dibawakan oleh pria,  yang menggambarkan sepasukan pejuang yang kembali dari medan perang dengan kemenangan yang gilang gemilang. Jumlah pemain sesuai dengan kebutuhan.
2. Kostum/pakaian
1). Baju warna hitam (Model jas tutup),
2). Celana hitam panjang antara 10-15 cm dibawah lutut dan    agak sempit.
3).  Sarung berwarna merah kehitaman.
4). Destar merah daqrah (pasapu jonjo) kurang lebih sama dengan destar Sultan Hasanuddin.
5).  Keris.
3. SUMAJO. Ialah merupakan sebuah gerak tari yang dimainkan oleh putra-putri istana, yang merupakan penyanbutan atau pernyataan gembira atas kemenangan para pejuang,pemainnya minimal empat orang.
Kostum/Pakaian.
1). Baju Bodo Panjang (baju laru) warna merah dan sarung  warna putih.
2).  Sanggul tinggi.
4. EJA-EJA, adalah gerak dan nyanyi dilakukan perorangan, dimulai oleh salah seorang pejuang yang menurut hadat salah tingkah disaat melihat penari wanita.Ia menggunakan Cinde.
5. ANGGOTA HADAT terdiri dari;
1).  Macoa Bawalipu,
2). Andreguru Olitau,
3).  Andreguru Pawawa.
Selaku Dewan Hakim yang mengadakan siding terhadap para pejuang yang menurut penilaian mereka telah melanggar tatakrama.
5. PEMAIN MUSIK.
1). Penabug gendang  2 orang,
2). Pemain lae-lae       1 orang.
3). Pemain curiga        1 orang.
4). Pemain gong          1 orang
5). Penyanyi             1-2 oramg
KOSTUM;
1).  Penabuh gendang sama dengan kostum pejuang,
2). Pemain lae-lae dan curiga sama dgn kostum pemain     wanita.
3).  Pemain gong sama dengan kostum pejuang,
4).  Penyanyi , baju hitam.
VII. WAKTU PENTAS
  1. Dapat dimainkan dalam waktu paling lama 30 menit,
  2. Dapat dimainkan semalam suntuk.
VIII. JALANNYA PERMAINAN
Formasi Dasar
  • Pria dasar lingkaran,
  • Wanita dasar bersaf.
Persiapan
a. Pemain pria siap berbentuk berbanjar;
- Gendang ditabuh,pemain pria serentak Mattuddu dengan ucapan Hae yang tegas dan bersemangat.
- Gerak berjalan,
-  Gerak ketangkasan,menggunakan senjata,
-  Gerak serangan,
-  Gerak bagaimana menyebrangi sungai,
Setiap peralihan gerakan dengan komando Lele.
b. Sementara pria menari, para pemain wanita telah siap dengan berbanjar disebuah tempat. Setelah gerak penyerangan bagi pria, kembali dengan gerakan berjalan menuju tempat wanita, dan pada saat itu dengan iringan lagu dan musik penari wanita keluar, dengan berjalan menjemput kaum pria yang seterusnya beriringan menuju pentas, dimana anggota hadat telah duduk.Pria membentuk setengah lingkaran dan dengan kode tabuh gendang, mereka serempak duduk bersilah, dan penari wanita memulai gerak tarinya. Pada sat itu para pejuang nampak masing-masing dengan gerak-gerik tertarik kepada penari wanita, yang diperhatikan oleh hadat. Anggota hadat meneliti para pejuang yang salah tingkah, yang itulah yang dijatuhi hukuman. Setelah selesai gerak tari wanita, dengan kode tabuh gendang, juga mereka duduk.
Pada saat terjadi persidangan.
- Macoa Bawalipu mengatakan:
“TAMAKA RANNU,UJIA PADA AWAMU MUBAWA JANGKI LAEKIA DAA SANGO UPODDA NYAWA,IYYA TOMI DAANUSALA SAITOMU MUPOPAITA KEDO KEDO LASITINAJA IPOPAITA ITANGA TOMATABBA”
- Magaga pakaitata Anre Guru.?.
“METTU TONGGA TASANGAE,JAJJI PARALLU IPALANAI EJA-EJA”
-  Macoa Bawalipu melemparkan cinde kepada yang dianggap  bersalah.
-  Yang bersangkutan menerima cinde, dan bersujut di hadapan macoa Bawalipu lalu berdiri dengan gerakan dan nyanyi.
-  Berlangsunglah acara Eja-Eja.
-  Cinde dapat diserahkan kepada salah seorang gadirin pria.
-  Siapa yang memperoleh cinde, harus melaksanakan gerak dan nyanyi Eja-Eja.
-  Cinde tidak dapat berpindah kepada pejabat , bekas pejabat dan wanita.
-  Jika cinde kepada salah satu yang tersebut diatas, maka permainan dinyatakan selesai.
-  Setelah permainan selesai, gendang ditabuh dan para pemain berdiri dengan gerakan berjalan menuju ketempat yang tersedia.
-  Tarian ini tidak boleh ditarikan se potong-potong, seperti pria saja, atau wanita saja, hanya Eja-Eja saja, akan tetapi harus dilakukan secara lengkap.
PENUTUP dan SARAN
Untuk pelaksanaan program pembinaan, pengembangan dan pelestarian kesenian ini, penyusun memohon kepada orang tua-tua dan anggota hadat dan turunannya, agar berkenan mengihlaskan kesenian ini kiranya dapt;
  1. Dimainkan oleh seniman yang berbakat dengan tidak memandang keturunan.
  2. Dimainkan pada acara-acara yang dirasa perlu kesenian ini ditampilkan.
  3. Dikembangkan kepada generasi muda selanjutnya,dan kepada seniman didaerah-daerah lain utamanya di Kabupaten Luwu, agar kesenian ini dapat dikenal dan dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai jalur dapatnya menjadi Kesenian Nasional Indonesia.
Palopo, Desember 1986.
Penyusun,

Sinopsis Tari Sumajo Luwu


7 07 2009
OLEH M.AMIN WAHID

Pemain Sunajo ini ,dimainkan minimal tiga orang dan boleh lebih sesuai dengan kebutuhan tetapi jumlahnya harus ganjil. Yang boleh menjadi pemain sumajo adalah mereka yang turunannya berasal dari para pemangku adapt/ yang pernah menjadi pemangku hadat ( TOMENGKENI). Sebelum mereka tampil (sumajo) maka mereka disiapkan pada suatu tempat dengan posisi sebagai berikut:
-          Duduk sambil kaki kiri diduduki,
-          Kaki kanan (lutut) berdiri,
-          Kedua belah tangan mereka kepada bahagian depan dengan kepalan tangan,
-          Mereka duduk bersaf.
Setelah melihat para pemain Kajangki datang yang diikuti dengan komando tabuh/gong,maka secara serentak mereka berdiri sambil menganggukkan kepala pertanda bahwa mereka sudah siap untuk tampil. Sesudah itu mereka berjalan dengan posisi berbanjar dan diikuti oleh pemain kajangki. Setelah tiba tempat dimana mereka akan mempertunjukan Tarian Sumajo, maka pihak penari Sumajo menyusun posisi mereka, sedang para pemain kajangki berada setengah lingkaran, suatu pertanda bahwa penari Sumajo perlu dilindungi. Namun sebelum penari Sumajo muncul dihadapan mereka ada duduk dewan hakim minimal tiga orang yang terdiri dari:
-          MACOA BAWALIPU,
-          MINCARA OGE,
-          ANRE GURU OLITAU/ AND.NANRA.
Setelah pertunjukan Sumajo usai, dengan perintah tubuh mereka kembali ketempat semula, yang diantar oleh pemain Kajangki, dan setelah mereka tiba ditempat, maka pemain kajangki kembali duduk disekitar Dewan Hakim. Dan setelah mereka duduk, Macoa Bawalipu menyampaikan titahnya sebagi berikut:
TAMAKA RANNU PADA MUITAO MOMBORE,   YAKIYA DAA SEDDE KEDO KEDONA SALAH SAITOMU,KEDO KEDO PISA LAWADDI LAITA TOMATABBA, JAJIMAKOKKONI HARUSU MARO MO EJA EJA.
Pada saat Macoa Bawalipu menyampaikan titahnya tersebut maka sarung yang ada ditangannya yang disebut Cinde, dilemparkanlah kepada yang berbuat kesalahan tadi. Setelah yang bersangkutan menerima Cinde tersebut maka dengan rasa ragu dan takut menghadaplah dia ke Dewan Hakim untuk meminta maaf, akan tetapi Dewan Hakim tidak menerimanya, justru yang bersangkutan melakukan Eja-Eja. Eja-Eja adalah merupakan pantun jenaka, dan tidak terikat dengan bahasa, malah kalau pelakonnya bergerak lucu, maka itulah yang sangat diharapkan karena dapt membuat penonton tertawa. Bila yang bersangkutan selesai melakukan eja-eja maka cinde yang ada pada tangannya dapat diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya terkecuali kepada pejabat pemerintah/pemangku hadat dan wanita. Dan apabila yang tersebut juga diberikan maka permainan/tarian dianggap selesai, dan cinde kembali diserahkan kembali kepada Macoa Bawalipu. Cinde adalah selembar kain sarung panjang yang tidak terjahit seperti sarung biasa yang dipegang oleh pemain Eja-Eja pada saat kena giliran. Adapun alat kelengkapan Tarian Sumajo:
    1. Baju Bodo panjang (Baju laru ) warna merah,
    2. Sarung sutra warna putih,
    3. Selendang Warna putih
  1. Memakai sanggul tinggi.
SEKELUMIT NYANYIAN KAJANGKI.
LIPU BULLI NU AMBARO MPORO,
PANGALLE AWAU PANGALLE TO RUMPAU,
IYOBA PO LEMBANGKU,
PANGANA WONRU TUU ITA PANA LIPU,
IYAPO LADI PENNEYA ANANAPO MARAJA,
MO EMBA PATOLA.
Wotu,  Januari 2009.
M.Amin Wahid.Tomalatta.

Istana Batara Guru


12 07 2009
Oleh; Nawawi.S.Kilat
Istana bagi sebuah kerajaan adalah tempatnya berdiam Datu ( Raja ) dan para kerabat-kerabatnya,lokasi atau tempat  didirikannya, menjadi pusat pemerintahan atau dikenal sebagai Ware di Kerajaan Luwu, sebagai mana halnya Istana Datu Luwu yang sekarang ada di Palopo merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Luwu (Ware pada periode ke V) yaitu sesudah dipindahkan dari periode Pao,Patimang Malangke (Ware ke IV).Istana Datu Luwu yang ada di Kota Palopo  sekarang merupakan istana yang terakhir. Jika diketahui, sebagai Istana yang terakhir, maka tentu ada istana-istana sebelumnya yang menyadi pusat pemerintahan Kerajaan Luwu ( Ware ). Yang menjadi masalah, hal ini kadang diabaikan yaitu dimana Istana Datu atau Kerajaan Luwu yang Pertama, tempat dimana didiami oleh Batara Guru,sebagai sokoguru pemerintahan Datu Luwu. Menurut tradisi,dan dipercayai banyak pihak, Luwu dianggap sebagai daerah  tertua bagi pemukiman dan merupakan kerajaan yang tertua khususnya di Sulawesi, hal itu menyebabkan daerah ini sangatlah bergengsi.  Ketuaan Luwu tidak dapat dilihat pada periode ke III ketika Pusat Kerajaan Luwu berpusat di Kamanre di tepi Sungai Noling ( Palopo Selatan atau Kabupaten Luwu sekarang) karena hal tersebut terjadi sekitar abad ke XV,atau ketika pusat kerajaan Luwu berada di Pao,Patimang Malangke karena hal itu juga terjadi pada sekitar abad ke XVI, apalagi jika hal tersebut dilihat ketika pusat kerajaan Luwu berpusat di Palopo karena hal itu baru terjadi ketika memasuki abad ke XVII. Ketuan Luwu hanya dapat dilihat ketika kerajaan Luwu berpusat di sekitar Wotu lama karena hal tersebut terjadi disekitar abad ke IX sampai abad ke XIII yaitu pada masa kerajaan Luwu pada periode Ware yang pertama
Kembali pada permasalahan yang ada tentang dimana letak Istana Luwu yang pertama, dan hal ini kadang atau sengaja diabaikan sehingga perhatian kita hanya tertuju  dimana Istana Datu Luwu yang ada sekarang, yaitu di Palopo atau yangmenjadi Ware. Jika perhatian kita hanya mengarah pada pemahaman ini, dikhawatirkan khususnya para generasi muda wija to Luwu akan asing dengan sejarahnya sendiri, mereka kehilangan jejak, pemahaman tentang Luwu makin sempit, sementara terabaikan jejak perjalanan panjang ketika Ware di Wotu,tempat berpijak awal dari Batara Guru dan keturunannya, ketika Ware di Mancapai dekat Lelewawu selatan Danau Towuti tempat berpijak Datu Luwu Anakaji dan keturunannya, ketika Ware di Kamanre, ditepi sungai Noling sebelah selatan kota Palopo,tempat bepijak Dewa Raja dan keturunannya, ketika Ware di pindahkan ke Pao, di Patimang dan Malangke dimana disini terjadi peristiwa yang sangat besar, yaitu masuknya agama Islam yang diperkenalkan oleh Dato Patimang. Sebagai catatan peristiwa-peristiwa tersebut justru terjadi antara abad ke IX sampai dengan Abad ke XVI Masehi, jadi berlangsung kurang lebih 700 tahun lamanya, terkadang perhatian kita diarahkan atau sengaja diarahkan pada kejadian yang selalu dijadikan fokus perhatian yang tertuju ke Palopo karena kedudukannya sebagai Ware sekarang baru terjadi pada abad ke XVII Masehi. Untuk menghadapi kehawatiran ini kami mencoba mengkajinya dari beberapa penelitian serta cerita tutur yang terpelihara dengan baik di tanah luwu dengan memulai, perhatian dari cikal bakal lahirnya kerajaan Luwu dari periode Luwu Pertama, dengan menunjukan letak Istana Batara Guru.
Ada anggapan bahwa sebahagian orang, menganggap istana Luwu tempat berdiam Batara Guru yang pertama berada di Cerekeng ( Cerrea), pendapat ini adalah sangat keliru karena masyarakat Bugis menetap di Cerekeng baru pada pertengahan abad ke Limabelas ,( Bulbeck dan Caldwell 2000;99 ) datang melalui Malili sekarang,adapun penduduk yang mendiaminya pada saat itu adalah Wotu, Pamona, To padoe atau Mori dan To Laki itulah sebabnya Malili tidak mempunyai penduduk asli, sehingga menurut Ian Caldwell Tidak ada bukti apapun yang menunjukan masyarakat Bugis di Cerekang maupun Ussu sebelum pertengahan abad ke Lima Belas. Hal ini berarti jikapun ada Identivikasi lokal atas Cerekang sebagai tempat Istana Batara Guru lebih tepat berlaku dari abad ke Enambelas ke atas, Lokasi dari pusat istana Luwu disini dalam tradisi lisan secara nyata adalah penempatan kejadian pada waktu yang salah ( anakronisme ).
Sebagai catatan kata Cerekang adalah terjemahan dari kata Cerrea yang merupakan nama asli Cerekeng. Cerrea dalam bahasa Wotu berarti tempat berpindah atau hijrah,terjadi ketika runtuhnya pusat kerajaan Luwu yang Pertama disekitar Wotu Lama yaitu sekitar Ussu dan Bilassalamoa.Sebagai tambahan menurut Ian Caldwell dalam tulisan “ Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi: Arkeologi bersejarah dan pusat-pusat kerajaan dalam La Galigo” beliau menyatakan “ Hampir pasti bahwa Istana Batara Guru di Cerekang di Teluk Bone Timur adalah sebuah Mitos. Pemukiman Bugis di Cerekang hanya dimulai sekitar kurang lebih tahun 1450, berhubung dengan naiknya peleburan besi dan produksi alat-alat senjata di Matano. Hal ini merupakan suatu godaan untuk beranggapan bahwa masyarakat Bugis di Cerekang telah secara nyata mengadopsi dan mengadaptasi mitos istana Batara Guru dari tetangganya, Wotu yang lebih tua.
Wilayah Wotu dahulu kala adalah tempat dimana Batara Guru turun untuk mendirikan kerajaan pertama. Disini jugalah pohon raksasa (pappua maoge) Welenreng ditebang untuk menbangun perahu Sawerigading ( Pelras  1996;59).Pada hal dua tempat di Luwu ini menyatakan bahwa disitulah bukit tempat dimana Istana Batara Guru berdiri.Daerah yang pertama adalah Wotu, sebuah kota kecil yang berbicara dalam bahasa daerah sendiri yang memiliki hubungan kausal dengan Kaili, Buton dan Selayar, identifikasi lainnya adalah bukit Pensimewoni yang terletak ditikungan sungai Cerekang.Disini terlihat atau nampak bagi kita bahwa tanpa malu-malu dengan penuh kejujuran peneliti Ian Caldwell mengakui bahwa Wotulah yang lebih tua. Jika ingin jujur dan kembali dalam arus sejarah yang betul, maka seyogianya pemerintahan Kabupaten Luwu Timur membetulkan berdasarkan sejarah kata Cerekang dikembalikan sesuai dengan nomenklatur nama aslinya yaitu Cerrea.Bukti lain adalah sesepuh kepala adat di Cerrea disebut sebagai Pua Cerrea atau nenek Cerrea,Pua tidak dikenal dalam bahasa Bugis, demikian pula halnya air suci yang ada di Cerekang (Cerrea) disebut Uwwe Mami yang berarti Air Kami atau atau air bertuah. Uwwe Mami tidak dikenal dalam bahasa Bugis tetapi hanya ada dalam bahasa Wotu.  Berdasarkan hal-hal tersebut diatas Masyarakat Hukum Adat di Wotu disebut Macoa atau yang dituakan, itulah sebabnya orang Wotu dianggap tua atau macoa, sehingga Datu-Datu Luwu yang mengerti Sejarah Luwu yang sebenarnya menempatkan hadat Wotu sebagai sangat terhormat, Datu Luwu menempatkan Hadat Luwu sebagai Kakak atau Macoa, sehingga pemangku Hadat Wotu disebut Macoa Bawalipu ( Yang dituakan di bumi). Pemangku Hadat Wotu sangat menghormati dan menyayangi siapapun Datu di Luwu.Orang Wotu memperlakukan Datu Luwu sebagai adik yang harus dijunjung tinggi dan wajib dilindungi dan dibelanya, demikian pula sebaliknya dahulukala Datu Luwu sangat menghargai orang Wotu sebagai kakaknya ,sebagai mana diperlihatkan Datu-Datu sebelunya. Akan tetapi dalam perjalanan sejarah tanah Luwu, ada sekelompok orang, atau pihak-pihak tertentu yang tidak mengerti sejarah Luwu yang sebenarnya dan berada disekitar Datu Luwu, ingin menghilangkan hubungan baik ini,sehingga peran hadad Wotu sengaja dikesamspingkan. Akan tetapi selicik apapun kelompok ini tidak akan berarti karena setiap saat ada penelitian yang dilakukan para ahli,dan orang Wotu sendiri sangat menhormati hadatnya, dan hadad Wotu keabsahannya juga tidak membutuh adanya pengesahan dari pihak lain termasuk siapapun yang menjadi Datu.Pemangku hadad Wotu dipimpin oleh seorang Macoa, dengan gelar Macoa Bawalipu. Sejujurnya peneliti dari manapun sulit menghilangkan Wotu dari sejarah tanah Luwu,karena Luwu dimulai dari sana.Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, kami menutupnya dengan kalimat bijak dari Daniel Defoe “ Bila Arlojiku sendiri yang keliru, hanya aku yang tertipu, bila jam kota yang keliru, maka seluruh warga kota ini akan tertipu karenanya”
( Penulis adalah Wakil Sekertaris KKSS Provinsi Sulawesi Tengah)
PALU. 08 JULI 2009.
NAWAWI.S.KILAT.